Seruan untuk nilai adab dan budaya dalam pendidikan Mandailing Natal di tengah kasus guru menjadi pelajaran penting bagi pembentukan karakter generasi muda.
Trifakta.com || Mandailing Natal, ~ Ketua Umum Madina Kreatif Madani pengembalian nilai adab dan budaya dalam dunia pendidikan menyikapi kasus guru Iyusan Sukoco di SDN 328 Sinunukan IV, Kecamatan Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal. Kasus ini mencakup secara mendalam karena menuatnya laporan orang tua murid ke aparat penegak hukum terhadap guru yang menjalankannya mendidik.
Dia menegaskan bahwa pepatah “al-adabu fauqol ‘ilmi” — adab lebih tinggi dari ilmu — harus menjadi landasan dalam proses pendidikan. Guru bukan sekedar penyampai ilmu, tetapi juga pembentuk karakter dan kepribadian anak didik. Menurutnya, setiap kelainan antara guru dan murid sebaiknya diselesaikan dengan kearifan, bukan secara otomatis dialihkan ke ranah hukum.
Madina Kreatif Madani menilai bahwa Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal perlu mengambil peran aktif sebagai mediator antara guru dan orang tua murid agar penyelesaian masalah dilakukan secara damai dan edukatif. Pendidikan idealnya menjadi ruang terbentuknya akhlak dan moral, bukan arena konflik antara pendidik dan wali murid.
Lebih jauh lagi, organisasi tersebut menghancurkan agar pemerintah daerah menetapkan kebijakan baru berupa pernyataan tertulis yang ditandatangani orang tua saat mendaftarkan anak ke sekolah, bahwa segala tindakan guru dalam konteks mendidik dan dalam batas kewajaran tidak dapat langsung dijadikan dasar tuntutan hukum. Langkah itu dianggap penting untuk memberikan perlindungan moral dan hukum bagi tenaga pendidik yang dijalankan dengan niat tulus mendidik.
Selain itu, Ketua Umum Madina Kreatif Madani berharap agar pemerintah daerah segera menerapkan kurikulum lokal yang menanamkan nilai-nilai adat dan budaya Mandailing, termasuk penerapan makna Dalihan Na Tolu dan Poda Na Lima dalam pendidikan formal. Nilai-nilai tersebut dianggap sebagai fondasi moral dan sosial masyarakat Mandailing yang harus diwariskan kepada generasi muda.
Dia menambahkan bahwa semakin banyak kasus yang berkaitan dengan perilaku dan karakter di masyarakat menjadi tanda bahwa nilai-nilai budaya luhur yang selama ini menjadi benteng moral masyarakat Mandailing terus terkikis. Pendidikan seharusnya tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menumbuhkan adab. Ilmu tanpa adab akan melahirkan kekacauan, sementara adab akan melahirkan kesuksesan.
Dia mengakhiri pernyataannya dengan: “Pendidikan seharusnya tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menumbuhkan adab. Ilmu tanpa adab akan melahirkan kekacauan, sementara adab akan melahirkan kehormatan.” (Amr)